\ Cerita-Cerita Mengandung Hikmah

Senin, 11 Juni 2012

Cerita-Cerita Mengandung Hikmah

Share on :
Ma'rifat adalah modalku,
akal adalah asal muasal agamaku,
rasa cinta adalah alasku,
rindu adalah kendaraanku,
dzikrullah adalah kesenanganku,
percaya diri adalah perbendahaanku,
sedih adalah rekanku,
ilmu adalah senjataku,
sabar adalah pakaianku,
zuhud adalah pekerjaanku,
ridha adalah keuntunganku,
yakin adalah kekuatanku,
kejujuran adalah penolongku,
taat adalah kecintaanku,
jihad adalah akhlakku,
dan kebahagiaanku adalah shalat.
 surya
April 26, 2003, 05:45
Dari ibnu Abbar Rs diriwayatkan, telah bersabda Rasulullah saw :
- Keimanan yang paling mulia adalah memberi keamanan kepada manusia dari perangaimu.
- Keislaman yang paling mulia ialah menyelamatkan manusia dari lidah dan tindakanmu
- Hijrah yang paling mulia adalah hijrah dari berbagai keburukan
- Jihad yang paling mulia adalah menewaskan kudamu di medan jihad.
- Zuhud yang paling mulia ialah jika kalbumu bisa ditenangkan oleh rezeki yang diberikan kepadamu.
- Permohonan yang paling mulia yang kamu panjatkan kepada Allah azza wa jalla ialah memohon afiyat dalam agama dan dunia.
begawan
April 26, 2003, 05:51
setiap gw dener kisah2 kayak gini, gw slalu iri sama org2 yg hidup pada jaman Rasulullah, Iriiiiiiii banget, knapa nggak gw juga ya :rolleyes:
surya
April 26, 2003, 05:51
Pada suatu ketika Bilal bin Rabah Ra pergi ke masjid Rsulullah saw untuk mengumandangkan adzan subuh. Tiba-tiba ia menemukan Rasulullah sedang menangis tersedu-sedu di sana. melihat rasullah dalam keadaan demikian, Bilal bertanya,"Apa yang membuat baginda sedih, Ya Rasulullah?"
Rasulullah menjawab."Ya Bilal...pada malam ini telah diturunkan sebuah ayat kepadaku. Celakalah orang yang membacanya tapi tidak mau memikirkannya. Firman Allah ta'ala adalah :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS. Ali Imran 190)
surya
April 26, 2003, 06:02
Pada suatu hari Rasulullah saw duduk-duduk bersama seorang fakir miskin, lalu datang orang kaya menemuinya. Kebetulan dia tidak mendapat tempat lain, kecuali tempat di sebelah fakir miskin yang masih kosong. Namun kemudian dia menarik-narik ujung-ujung kainnya agar jangan sampai menyentuh pakainan dan badan si fakir miskin. Melihat tingkah laku yang demikian, rasulullah bertanya,"Kenapa kamu menarik-narik ujung-ujung kainmu? Apakah kamu khawatir kekayaanmu sampai menyentuh si fakir ini?"

Orang kaya itu benar-benar terpukul dengan teguran rasulullah, lalu katanya dengan nada menyesal,'Ya rasullah, sebagau kifarat atas dosa-dosaku, aku akan memberikan setengah dari hartaku kepada orang fakir ini."

Rasulullah bertanya kepada si fakir,"Ya abdallah, maukah kau menerima hibahnya?"

Namun s fakir menjawab," tidak ya Rasulullah."

Rasulullah bertanya dengan nada heran," Mengapa?"

Dia menjawab," Aku tidak ingin kaya ya Rasulullah. Aku takut menjadi sombong kepada makhluk Allah seperti yang tadi dilakukan orang ini."
surya
April 26, 2003, 06:13
Pada suatu hari Umar bin Khattab pergi mengadukan Ali bin Abi Thalib kepada rasulullah saw. Katanya ,"Ya Rasulullah, Ali tidak pernah memulai mengucapkan salam kepadaku..."

Mendengar pengaduan itu Rasulullah segera memanggil Ali Ra untuk datang. lalu Rasulullah bertanya kepadanya,"Ali, benarkah engkau tidak pernah memberikan salam terlebih dahulu kepada Umar?"

Ali bin Abi Thalib ra menjawab,"Ya rasulullah. Hal ini aku lakukan juga krena ucapan rasulullah yang mengatakan: "Siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan istana baginya di surya". Karena itulah rasulullah, aku selalu ingin Umar mendahuluiku mengucapkan salam supaya ia bisa mendapatkan istana di surga!"
YuaEviL
April 26, 2003, 06:34
2 Begawan......iya sama gw juga lho.....pasti enak klo kita ada di zaman Rasulullah......nanya masalah apapun .....jawabannya kyknya bener2 bijak n menyejukkan hati......tapi kita tetep kudu bersyukur bisa menikmati zaman ini....dengan hidup dan nikmat yg banyak......
pokerface
April 26, 2003, 11:50
Originally posted by begawan
setiap gw dener kisah2 kayak gini, gw slalu iri sama org2 yg hidup pada jaman Rasulullah, Iriiiiiiii banget, knapa nggak gw juga ya :rolleyes:

jadi inget kata2 gandalf dalam LOTR

All we have to decide is what to do with the time that is given to us
dragz
April 26, 2003, 12:09
Originally posted by YuaEviL
2 Begawan......iya sama gw juga lho.....pasti enak klo kita ada di zaman Rasulullah......nanya masalah apapun .....jawabannya kyknya bener2 bijak n menyejukkan hati......tapi kita tetep kudu bersyukur bisa menikmati zaman ini....dengan hidup dan nikmat yg banyak......

:bravo: tetep sukuri apa yg kita dapet sekarang. karena kita gak tau andaikata hidup jaman Rasul SAW kuat menghadapi segala rintangan dan tantangannya.
eudea
April 26, 2003, 12:11
semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung masih bisa mengikuti jejak Rasulullah SAW walaupun beliau sudah tiada. amien..
surya
April 26, 2003, 13:02
Ada disebutkan di salah satu hadits shahih...kalo Rasulullah bersabda bahwa orang yang beriman makin lama setelah beliau tiada (maksudnya seperti ikita yg hidup setelah sekitar 1500 thn beliauwafat), nilai ibadahnya lebih tinggi. Karena kita-kita ini tetap beriman kepada Allah dan Rasulullah, meskipun kita tidak melihat beliau langsung.
(Tolong kalo ada yg inget haditsnya bisa post di sini)

Jadi gue yakin, kita tetap bersyukur lah. jaman Rasul aja juga banyak yg kafir kok, meskipun sudah diajak hijrah oleh Rasul. Tapi dasar Hidayah Allah kan hanya diberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki...so bersyukurlah kita hari ini masih dalam keadaan beriman meskipun hidup yang jauh di jaman sesudah Rasulullah.
choco`latte
April 26, 2003, 14:19
Pada suatu hari Rasulullah mendapat berita yang mengagetkan tentang salah seorang sahabatnya. "Ia sedang mengalami sakaratul maut. Sudah kami talkin agar menyebut nama Allah, tetapi lidahnya bagai terkunci," demikian tutur si pembawa kabar.

Rasulullah bergegas menuju ke rumah sahabatnya itu. Sebab, ia seorang mukmin yang beriman, pejuang yang ikhlas, dan dermawan yang tekun beribadah. Ia harus diselamatkan.

"Sahabatku, katakanlah la ilaha illallah," ujar Nabi. Tetapi, orang itu hanya membisu saja.
Katakanlah illallah," desak Nabi. Masih juga orang itu memandang kosong.
"Katakanlah Allah," Nabi berbisik kembali. Orang itu tetap bengong. Lalu, menghembuskan napas penghabisan.

Para sahabat menjerit kecil. Mereka sangat sedih menyaksikan rekan setia itu mengakhiri hidup di dunianya tanpa mampu melafalkan kalimat tauhid. Namun, anehnya Nabi malah tersenyum ceria dan wajahnya bersinar cerah. Tentu saja para sahabat keheranan. Di antara mereka, ada yang tidak tahan untuk segera melontarkan pertanyaan.

"Wahai kekasih Allah, alangkah menyakitkan sikapmu. Kami semua cemas memikirkan nasib malang yang menimpa rekan kami itu di akhirat kelak, mengapa engkau justru kelihatan gembira?"

Nabi, masih bersinar-sinar menjawab. "Tidakkah kalian lihat menjelang ajalnya, ia menatap ke atas sekilas? Ia menghadap Allah dengan isyarat mata. Ia tidak mampu bertobat dengan lidahnya. Tetapi, ia memohon ampun dengan hatinya. Aku senang sekali, karena Allah berfirman kepadaku bahwa kedatangannya diterima dalam rida-Nya."
choco`latte
April 26, 2003, 14:39
Hikmah Diam pada Saat yang Tepat

Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar.

Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar. Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan. Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia lalu berteriak, "Minggir... minggir! kayu bakar mau lewat!."

Orang-orang pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena ujung kayu. Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba lewat seorang bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya. Akibatnya, ujung kayu bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan merobeknya. Bangsawan itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya.

Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu lalu menceritakan kejadiannya serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu. Hakim itu lalu berkata, "Mungkin ia tidak sengaja." Bangsawan itu membantah. Sementara si lelaki itu diam saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa kemungkinan yang selalu dibantah oleh bangsawan itu, akhirnya hakim mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu. Namun, setiap kali hakim itu bertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia tetap diam. Setelah beberapa pertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang hakim akhirnya berkata pada bangsawan itu, "Mungkin orang ini bisu, sehingga dia tidak bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi."

Bangsawan itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia lalu berkata, "Tidak mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak di pasar tadi. Tidak mungkin sekarang ia bisu!" dengan nada sedikit emosi. "Pokoknya saya tetap minta ganti," lanjutnya.

Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata, "Kalau engkau mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?" Jika ia sudah memperingatkan, berarti ia tidak bersalah. Anda yang kurang memperdulikan peringatannya."

Mendengar keputusan hakim itu, bangsawan itu hanya bisa diam dan bingung. Ia baru menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang baginya. Akhirnya ia pun pergi. Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun pergi. Ia selamat dari tuduhan dan tuntutan bangsawan itu dengan hanya diam.
surya
April 26, 2003, 15:01
Pada suatu ketika ada seorang meminta nasihat kepada Ibrahim bin Adham Ra yang terkenal sebagai orang zahid. Kata orang itu,"Ya Ibrahim, erilah kami wasiat yang dengan itu menjadikan hidup kami bermanfaat."
Ibrahim bin Adham memberikan wasiatnya :
- Kalau engkau melihat orang sibuk dengan dunia, maka sibukkanlah dirimu dengan soal akhirat.
- Kalau engkau melihat orang sibuk memperindah lahirnya, maka sibukkanlah dirimu dengan memperindah batinmu.
- Kalau engkamu melihat orang sibuk memakmurkan perkebuna (kekayaan), maka sibukkanlah dirimu memakmurkan kuburan.
- kalau engkau melihat orang sibuk mengabdikan diri pada sesamanya, maka sibukkanlah dirimu dengan mengabdikan diri kepada Robbul'alamin.
- Kalau engkau melihat orang sibuk mempergunjinkan keburukan orang lain, maka sibukkanlah dirimu dengan melihat keburukan dirimu sendiri.
AlfaOmega
April 28, 2003, 12:22
Originally posted by choco`latte
Hikmah Diam pada Saat yang Tepat

Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar.

Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar. Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan. Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia lalu berteriak, "Minggir... minggir! kayu bakar mau lewat!."

Orang-orang pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena ujung kayu. Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba lewat seorang bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya. Akibatnya, ujung kayu bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan merobeknya. Bangsawan itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya.

Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu lalu menceritakan kejadiannya serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu. Hakim itu lalu berkata, "Mungkin ia tidak sengaja." Bangsawan itu membantah. Sementara si lelaki itu diam saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa kemungkinan yang selalu dibantah oleh bangsawan itu, akhirnya hakim mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu. Namun, setiap kali hakim itu bertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia tetap diam. Setelah beberapa pertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang hakim akhirnya berkata pada bangsawan itu, "Mungkin orang ini bisu, sehingga dia tidak bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi."

Bangsawan itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia lalu berkata, "Tidak mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak di pasar tadi. Tidak mungkin sekarang ia bisu!" dengan nada sedikit emosi. "Pokoknya saya tetap minta ganti," lanjutnya.

Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata, "Kalau engkau mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?" Jika ia sudah memperingatkan, berarti ia tidak bersalah. Anda yang kurang memperdulikan peringatannya."

Mendengar keputusan hakim itu, bangsawan itu hanya bisa diam dan bingung. Ia baru menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang baginya. Akhirnya ia pun pergi. Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun pergi. Ia selamat dari tuduhan dan tuntutan bangsawan itu dengan hanya diam.


Lucu dan menarik juga tuch cerita :)
tetapi, menurut guwe ini susah dicari relevansinya dijaman sekarang (sistem peradilan sekarang) dikarenakan
1. sedikit hakim yang jujur
2. anggapan bahwa sikap diam adalah menerima / setuju
3. dalam peradilan, harus ada hakim, jaksa, penuntut, pembela, juri (kalau ada), terdakwa.
ANYWAY, bagus koq :)
eudea
April 30, 2003, 10:47
RENCANA ALLAH PASTI INDAH

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang
sedang bermain dilantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia
menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku
memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet. Ibu dengan
tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku,lanjutkanlah permainanmu,
sementara ibu menyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil
dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.
"Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu Semrawut menurut
pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, "Anakku,
mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. "Waktu aku lakukan itu, aku heran dan
kagum melihat bunga-bunga yang indah,dengan latar belakang pemandangan matahari yang
sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena
dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet. Kemudian ibu
berkata,"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau,tetapi engkau tidak
menyadari bahwa di atas kain

ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya.
Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu
lakukan. Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada
Allah, "Allah, apa yang Engkau lakukan?" Ia menjawab : " Aku sedang menyulam
kehidupanmu." Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya
banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?

"Kemudian Allah menjawab," Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan

Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu dibumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu
ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang
indah dari sisiKu.

"Subhanallah...

Beruntunglah orang2 yang mampu menjaring ayat indah Allah dari keruwetan hidup di
dunia ini. Semoga Allah berkenan menumbuhkan kesabaran dan mewariskan kearifan dalam
hati hamba-Nya agar dapat memaknai kejadian2 dalam perjalanan hidupnya, seruwet
apapun itu. Amin.

Subhanallah, tulisan ini benar-benar membuka pikiran kita bahwa Allah

adalah Dzat Yang maha pengatur segala sesuatu di alam ini. Tulisan ini

mengingatkan saya bahwa kendati pun manusia punya keinginan, tetapi Allah mempunyai
keputusan yang tak mungkin dapat kita ubah. Mari kita senantiasa bertawakkal kepada
Nya.

Wassalamualaikum wr wb
bubbles
May 02, 2003, 13:38
kalo ada yang punya crita tentang istri Rasulullah..bagi-bagi donk..cerita tentang Siti Aisyah, dll::star::
AlfaOmega
May 02, 2003, 14:02
ISTERI-ISTERI TELADAN DALAM ISLAM

1. Khadijah binti Khuwailid
---------------------------
Tatkala Nabi SAW mengalami rintangan dan gangguan dari kaum
lelaki Quraisy, maka di sampingnya berdiri dua orang wanita. Kedua
wanita itu berdiri di belakang da'wah Islamiah, mendukung dan bekerja
keras mengabdi kepada pemimpinnya, Muhammad SAW : Khadijah bin Khuwa-
ilid dan Fatimah binti Asad. Oleh karena itu Khadijah berhak menjadi
wanita terbaik di dunia. Bagaimana tidak menjadi seperti itu, dia
adalah Ummul Mu'minin, sebaik-baik isteri dan teladan yang baik bagi
mereka yang mengikuti teladannya.

Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi SAW
sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung
di Gua Hira'. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya
ketika Nabi SAW berdoa (memohon) kepada Tuhannya. Khadijah adalah
sebaik-baik wanita yang menolongnya dengan jiwa, harta dan keluarga.
Peri hidupnya harum, kehidupannya penuh dengan kebajikan dan jiwanya
sarat dengan kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda :"Khadijah beriman kepadaku ketika
orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan
dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku
apa-apa."

Kenapa kita bersusah payah mencari teladan di sana-sini, pada-
hal di hadapan kita ada "wanita terbaik di dunia," Khadijah binti Khu-
wailid, Ummul Mu'minin yang setia dan taat, yang bergaul secara baik
dengan suami dan membantunya di waktu berkhalwat sebelum diangkat men-
jadi Nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.

Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalahnya,
dan membantu beliau serta kaum Muslimin dengan jiwa, harta dan keluarga.
Maka Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan Nabi-Nya dengan se-
baik-baik balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan di dalam is-
tananya, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa hi-
dupnya.
Ketika Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW, dia berkata :"Wahai,
Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi
kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan
salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang
sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya
dan tidak ada kepayahan." [HR. Bukhari dalam "Fadhaail Ashhaabin Nabi
SAW. Imam Adz-Dzahabi berkata :"Keshahihannya telah disepakati."]

Bukankah istana ini lebih baik daripada istana-istana di dunia,
hai, orang-orang yang terpedaya oleh dunia ?

Sayidah Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang bergabung
dengan rombongan orang Mu'min yang orang pertama yang beriman kepada
Allah di bumi sesudah Nabi SAW. Khadijah r.a. membawa panji bersama
Rasulullah SAW sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia
habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya. Dia berdiri di belakang
suami dan Nabinya hingga nafas terakhir, dan patut menjadi teladan
tertinggi bagi para wanita.

Betapa tidak, karena Khadijah r.a. adalah pendukung Nabi SAW
sejak awal kenabian. Ar-Ruuhul Amiin telah turun kepadanya pertama
kali di sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya membaca ayat-
ayat Kitab yang mulia, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Kemudian
dia menampakkan diri di jalannya, antara langit dan bumi. Dia tidak
menoleh ke kanan maupun ke kiri sehingga Nabi SAW melihatnya, lalu
dia berhenti, tidak maju dan tidak mundur. Semua itu terjadi ketika
Nabi SAW berada di antara jalan-jalan gunung dalam keadaan kesepian,
tiada penghibur, teman, pembantu maupun penolong.

Nabi SAW tetap dalam sikap yang demikian itu hingga malaikat
meninggalkannya. Kemudian, beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan
takut akibat yang didengar dan dilihatnya. Ketika melihatnya, Khadijah
berkata :"Dari mana engkau, wahai, Abal Qasim ? Demi Allah, aku telah
mengirim beberapa utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah,
kemudian kembali kepadaku." Maka Rasulullah SAW menceritakan kisahnya
kepada Khadijah r.a.

Khadijah r.a. berkata :"Gembiralah dan teguhlah, wahai, putera
pamanku. Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau
menjadi Nabi umat ini." Nabi SAW tidak mendapatkan darinya, kecuali pe-
neguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya dan dukungan bagi
urusannya. Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang menye-
dihkan, baik berupa penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau peng-
hindaran darinya. Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan
kesedihan, mendinginkan hati dan meringankan urusannya. Demikian hendak-
nya wanita ideal.

Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah SWT telah mengirim salam
kepadanya. Maka turunlah Jibril A.S. menyampaikan salam itu kepada Rasul
SAW seraya berkata kepadanya :"Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhan-
nya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :"Wahai Khadijah, ini Jibril menyam-
paikan salam kepadamu dari Tuhanmu." Maka Khadijah r.a. menjawab :"Allah
yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam (kesejahte-
raan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan)."

Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorang pun
di antara para shahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta
khulafaur rasyidin. Hal itu disebabkan sikap Khadijah r.a. pada saat
pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang mendukung
da'wah itu sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah
yang besar bagi Rasulullah SAW. Khadijah mendampingi Nabi SAW selama
seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolong-
nya di waktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya,
ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolong-
nya dengan jiwa dan hartanya.

Rasulullah SAW bersabda :"Khadijah beriman kepadaku ketika orang-
orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan
dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-
apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari
selain dia." [HR. Imam Ahmad dalam "Musnad"-nya, 6/118]

Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah r.a., dia
berkata :"Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata :"Wahai, Rasulullah,
ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan atau
minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Tuhan-
nya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat) dari
mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan." [Shahih
Bukhari, Bab Perkawinan Nabi SAW dengan Khadijah dan Keutamaannya, 1/539]
AlfaOmega
May 07, 2003, 08:57
2. Ummul Mu'minin Saudah binti Zam'ah
-------------------------------------

Dia adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi SAW sesudah
Khadijah r.a. dan dia sendiri yang bersama Nabi SAW selama kurang
lebih 3 tahun sehingga beliau berumah tangga dengan 'Aisyah r.a.

Adalah para sahabat -radhiyallahu 'anhum- memperhatikan
kesendirian Nabi SAW sesudah Khadijah r.a. wafat dan berharap
kiranya beliau menikah, barangkali dalam pernikahan itu ada yang
menghibur kesendiriannya. Akan tetapi, siapa yang berani bicara
kepada beliau soal itu ?

Khaulah binti Hakim maju untuk melakukan tugas itu. Maka
dia berbicara kepada Rasul SAW dan menawarkan 'Aisyah binti Ash-
Shiddiq r.a. namun dia masih kecil. Maka biarlah dia dipinang,
kemudian ditunggu hingga dewasa. Akan tetapi, siapakah yang akan
memperhatikan urusan-urusan Nabi SAW dan melayani putri-putri
serta memenuhi rumah beliau ? Pernikahan dengan 'Aisyah tidak akan
berlangsung sebelum 2 atau 3 tahun lagi. Siapakah gerangan wanita
yang memimpin urusan-urusan Nabi SAW dan memelihara putri-putrinya ?
Dia adalah Saudah binti Zam'ah dari bani Ady bin Najjar.

Rasul SAW mengizinkan Khaulah meminang keduanya. Pertama
Khaulah datang ke rumah Abu Bakar r.a., lalu ke rumah Zam'ah. Dia
menemui puterinya, Saudah, dan berkata : "Kebaikan dan berkah apa
yang dimasukkan Allah kepadamu, wahai Saudah ?" Saudah bertanya
karena tidak tahu maksudnya, "Apakah itu, wahai Khaulah ?" Khaulah
menjawab :"Rasulullah SAW mengutus aku untuk meminangmu." Saudah
berkata dengan suara gemetar, "Aku berharap engkau masuk kepada
ayahku dan menceritakan hal itu kepadanya." Maka terjadi kesepakatan
dan berlangsunglah pernikahan.

Saudah mengalami situasi yang menyebabkan Rasulullah SAW
mengulurkan tangannya yang penyayang untuk menolong masa tua dan
meringankan kekerasan hidup yang dirasakan oleh Saudah. Saudah
telah hijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan agama bersama suami,
putra pamannya. Kemudian suaminya meninggal sebagai muhajir dan
Saudah tinggal sendirian. Saudah menjadi janda yang hidup di tanah
perantauan sebelum tiba di Ummul Qura. Rasul SAW telah terkesan
oleh wanita muhajir yang mu'min dan janda itu. Ternyata, Saudah
setuju untuk menikah dengan Rasulullah SAW.

Saudah menjadi ibu rumah tangga di rumah suaminya, Rasul
SAW sampai 'Aisyah r.a. datang ke rumah kenabian. Dia mengetahui
kedudukan 'Aisyah terhadap hati Nabi SAW. Maka dia berikan harinya
kepada 'Aisyah dan melapangkan tempat pertama baginya di dalam
rumah. Saudah berupaya sekuat tenaga untuk mendapatkan keridhoan
pengantin yang masih muda dan menyenangkannya ('Aisyah). Setelah
menginjak masa tua yang dingin, Saudah sangat berharap untuk tetap
menjadi isteri Rasulullah SAW di dunia dan di akhirat serta tidak
diharamkan dari kemuliaan yang besar ini, sekalipun dia berikan
harinya kepada 'Aisyah setelah merasa dia tidak menginginkan apa
yang biasa diinginkan kaum wanita.

Saudah hidup bekerja keras dalam mengurusi rumah kenabian,
sementara hatinya sarat dengan keridhoan dan iman hingga Nabi SAW
pergi menghadap Tuhannya. Saudah wafat dalam masa khilafah Umar
ibnul Khaththab r.a. 'Aisyah r.a. sering menyebut kebaikan dan
memujinya atas kebaikan itu. Dia berkata, "Tidak seorang pun yang
lebih aku sukai dalam dirinya daripada Saudah binti Zam'ah, hanya
saja dia agak keras wataknya." [Al-Istii'aab 4/1867]

Ketika Saudah wafat, Ibnu Abbas sujud. Ditanyakan kepadanya
mengenai hal itu, maka dia menjawab, "Rasulullah SAW bersabda :
"Apabila kamu melihat suatu tanda, maka sujudlah." Dan tanda ketika
wafatnya isteri-isteri Nabi SAW itulah yang menyebabkan dia bersujud.
[Thabaqat Ibnu Sa'ad, Al-Ishaabah oleh Ibnu Hajar dan Usudul Ghaabah
oleh Ibnu Atsiir]

Saudah meriwayatkan lima hadits dari Rasulullah SAW. Di
antaranya satu hadits diriwayatkan dalam Sahihain [Ibnul Jauzil, Al-
Mujtanaa]. Dalam satu riwayat, bahwa Bukhari meriwayatkan dari Saudah
dua hadits. [Al-Maqdisi, Al-Kamaal bii Ma'rifatir Rijaal]

Semoga Allah SWT merahmatinya. Saudah menyukai sedekah dan
berbudi luhur. Dari 'Aisyah r.a. dia berkata : "Bahwa sebagian isteri-
isteri Nabi SAW berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah di antaraa kami
yang paling cepat menyusulmu ?" Nabi SAW menjawab, "Yang terpanjang
tangannya di antara kalian." Kemudian mereka mengambil tongkat untuk
mengukur tangan mereka. Ternyata, Saudah adalah orang yang terpanjang
tangannya di antara mereka. Kemudian kami mengetahui, bahwa maksud
dari panjang tanganya adalah suka sedekah. Saudah memang suka memberi
sedekah dan dia yang paling cepat menyusulnya di antara kami." (H.R.
Syaikhain dan Nasai). Dalam suatu riwayat lain oleh Muslim :"Yang
paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang terpanjang
tangannya di antara kalian." 'Aisyah berkata, "Mereka saling mengukur
siapa di antara mereka yang terpanjang tangannya. Ternyata yang ter-
panjang tangannya di antara kami adalah Zainab, karena dia melakukan
pekerjaan tangan dan mengeluarkan sedekah."
AlfaOmega
May 13, 2003, 10:08
"BACALAH"

Banyak ayat Al-Quran yang menyuruh kita membaca alam raya ini dan memikirkan kejadian2 yang ada di sekitar kita. Inti dari semua ini adalah Tuhan menyuruh kita untuk belajar melihat apa yang tersirat, jangan hanya puas dengan yang tersurat saja. Kerugian yang dialami oleh orang yang tidak bisa membaca yang tersirat, mungkin dapat direnungkan dari pengalaman yang dialami seekor burung gereja berikut ini:

Ada seekor burung gereja yang sedang terbang di musim salju. Karena mengalami kedinginan yang amat sangat, sayapnya membeku sehingga tidak bisa dikepakkannya lagi. Ia pun jatuh di sebuah tanah lapang. Setelah beberapa lama terbaring kedinginan, maka tiba2 lewat seekor sapi yang tanpa sengaja membuang kotorannya tepat menimpa badannya. Kontan sumpah serapah pun segera meluncur keluar dari mulut mungilnya !!!

Rupanya tanpa disadari oleh burung gereja itu, hangatnya kotoran sapi yang menimpanya itu lambat laun membuat suhu tubuhnya berangsur normal. Ketika ia sedang bersiap-siap akan terbang kembali, tiba-tiba munculah seekor kucing. Keruan saja buruk gereja ini panik dan ingin secepatnya terbang menghindar. Tetapi sayangnya ternyata ia belum mampu, karena sayapnya rupanya masih agak membeku. Ia pun dengan dengan ketakutan yang amat sangat terpaksa pasrah saja menerima nasib. Namun diluar dugaannya kucing yang biasanya tidak pernah ramah terhadap burung gereja, kali ini bersifat sangat simpatik. Ia sama sekali tidak mengganggunya, bahkan menjilat-jilati badannya seolah-olah ingin membersihkan sisa-sisa kotoran sapi yang melekat pada bulu-bulunya. Sehingga akhirnya bersihlah seluruh badan burung gereja itu.

Hangatnya kotoran sapi serta jilatan kucing itu rupanya mampu memulihkan kondisi burung gereja itu untuk dapat terbang kembali. Namun demikian burung gereja ini ternyata belum mau terbang. Rupanya ia menikmati jilatan kucing itu sebagai perlakuan yang memanjakannya. Maka ia pun membiarkan dirinya tetap terbaring sambil berpura-pura masih kedinginan, dengan harapan semoga kucing itu akan menjilatinya lagi.

Tetapi apa yang terjadi Melihat badan burung gereja itu sudah bersih, maka kucing itu pun dengan ganasnya menerkam burung yang bodoh itu!!!!

Burung gereja di atas melambangkan perumpamaan orang yang hanya pandai melihat yang tersurat saja. Baginya sesuatu yang tidak menyenangkannya selalu dianggapnya buruk, dan kejadian yang menyenangkannya dianggap pasti baik. Orang yang mempunyai sikap seperti ini jelas berlawanan dengan firman Allah pada surat Al-Baqarah 216, " Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." Boleh jadi kita belum yakin sepenuhnya dengan firman Allah ini, tetapi yang pasti burung gereja itu sudah membuktikannya Dan bila kita tetap terpana dengan yang tersurat saja, bukan tidak mungkin kita akan bertemu dengan burung gereja itu.

" Dan orang-orang itu berkata; " seandainya kami mau mendengarkan (nasihat agama) dan kami menggunakan akal-akal kami, pasti kami tidak menjadi penghuni neraka Sair." [Al-Mulk ayat 10]. Wallahua'alam.
Wuller
May 15, 2003, 04:31
Bagus banget isinya Alhamdulillah..... gw banyak belajar dari ini.
thanks
todiq
May 29, 2003, 14:31
gua suka bgt ...waktu Aa Gym cerita waktu nabi Muhammad mo meninggal..!
mendalam dan khidmat...!
AlfaOmega
May 29, 2003, 15:01
Kekuatan Supranatural Menurut Al-Quran
KH. Jalaluddin Rakhmat

Dengan nama Allah Mahakasih Mahasayang
Ya Allah, tundukkan kepadaku musuh-musuhku
seperti Kau tundukkan angin kepada Sulaiman bin Dawud as
Lunakkan mereka kepadaku
seperti Kau lunakkan besi kepada Dawud as
Hinakan mereka di hadapanku
seperti Kau rendahkan Fir’aun di hadapan Musa as
Kalahkan mereka untukku
seperti Kau kalahkan Abu Jahal kepada Muhammad saw.

Demi hak Kaf Ha Ya ‘Ain Shad Ha Mim ‘Ain Sin Qaf
Tuli, bisu, buta dan mereka tidak kembali
Tuli, bisu, buta dan mereka tidak melihat

Tuli, bisu, buta dan mereka tidak berfikir

Maka Allah akan melindungi kamu menghadapi mereka

Dan Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui

Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan kepada makhluk utama-Nya
Muhammad dan semua keluarganya

Bismillahirrahmanirrahim.

Demi kehormatan Kaf Ha Ya ‘Ain Shad Ha Mim ‘Ain Sin Qaf

Tiada daya, tiada kekuatan kecuali karena Allah yang Maha Tinggi Maha
Agung.[i]

Doa di atas, yang saya kutip dari sebuah kitab lama, memohon agar
Tuhan menganugrahkan kekuatan supranatural. Dengan merujuk kepada
mukjizat para rasul, huruf-huruf muqaththa’ah, dan ayat-ayat Al-Quran,
pembaca doa ingin menaklukkan musuh-musuhnya. Kata “musuh” bisa saja
diganti dengan nama Fulan bin Fulan. Sebagaimana ia mempercayai adanya
kekuatan adikodrati pada para rasul, ia juga yakin Tuhan akan
memberinya “percikan” dari kekuatan itu. Siapa pun yang mengamalkannya
dan apa pun yang dibacanya, doa diyakini oleh kaum mukmin sebagai
senjata supranatural. Nabi Muhammad saw bersabda, “Takutilah olehmu
doa orang yang tertindas; karena antara mereka dengan Tuhan tidak ada
penghalangnya.” Ketika orang yang dizalimi dalam keadaan tidak berdaya
(dan seringkali juga tidak ada harapan), ia mencari kekuatan tambahan
di atas kekuatan alamiah yang dimilikinya dengan doa. Karena itu,
keyakinan pada kekuatan doa memperkokoh keyakinan akan adanya
kausalitas yang bersifat supranatural.

Kepercayaan akan mukjizat sebagai contoh kekuatan supranatural sudah
menjadi ijmak kaum muslimin. Tetapi, pada satu babakan dalam sejarah
pemikiran Islam, para ulama mufasir sering menolak hal-hal yang
supranatural. Mereka berusaha menyimpangkan arti ayat-ayat yang
berkenaan dengan mukjizat atau keramat. Mereka menjelaskan makna
ayat-ayat itu begitu rupa sehingga mukjizat sama sekali bukan
“miracle”, tetapi hal-hal yang alamiah saja. Muhammad Abduh,
sebagaimana dilaporkan Sayyid Rasyid Ridha, mengambil mazhab
penafsiran seperti ini. Ia dilanjutkan oleh mufasir modernis seperti
Al-Maraghi, Al-Qasimi, dan Al-Jawhari. Dengan semangat berlebihan
untuk menunjukkan betapa ilmiahnya Al-Quran, mufasir seperti Maulana
Muhammad Ali mengubah kata-kata yang menunjukkan kekuatan supranatural
menjadi metafora saja.

Sayyid Al-Thabathabai mengkritik tafsir modernis ini sebagai inhiraf:
“Belakangan ini sebagian peneliti telah melakukan inhiraf dengan
menjelaskan pengetahuan Ilahiyyah dan realitas keagamaan berdasarkan
ilmu-ilmu alamiah. Penjelasan itu didasarkan kepada teori
materialistik. Mereka berpendapat bahwa persepsi manusia bersifat
material dan berasal dari otak. Semua kesempurnaan baik bersifat
individual maupun sosial hanyalah perkembangan materi.

“Mereka menyebutkan bahwa kenabian hanyalah sejenis kekuatan
intelektual yang sangat tajam, jenius intelektual. Seorang jenius yang
bernama Nabi melihat pada kondisi sosial kaumnya. Ia ingin membebaskan
mereka dari tradisi yang primitif menuju peradaban yang lebih tinggi.
Ia mengubah kepercayaan dan pandangan kaumnya dan menyesuaikannya
dengan kebutuhan masa dan tempat dengan cara sebaik-baiknya. Dalam
hubungan inilah ia merumuskan prinsip-prinsip sosial dasar dan
menetapkan aturan-aturan praktis untuk meningkatkan standar kehidupan
mereka, mengangkat akhlak mereka, dan membuat mereka menjadi anggota
masyarakat yang lebih baik. Berdasarkan pada teori ini mereka
menyatakan bahwa: (1) Nabi adalah manusia pemikir yang jenius, yang
menyeru kaumnya kepada reformasi kehidupan sosial; (2) Wahyu hanyalah
pikiran yang mulia di dalam otaknya; (3) Bahwa kitab Samawi hanyalah
kumpulan pikiran yang mulia ini, yang bersih dari kepentingan diri dan
tujuan-tujuan pribadi; (4) Malaikat yang menurut Nabi mendatanginya
hanyalah kekuatan alamiah yang mengatur peristiwa-peristiwa alam atau
kekuatan psikologis yang menggerakkan manusia menuju kesempurnaan. Ruh
kudus hanyalah salah satu tingkat dari ruh alamiah yang materialistis,
yang memasukkan pikiran suci pada jiwa nabi. Setan sebaliknya adalah
kekuatan material yang meracuni jiwa dan memasukkan pikiran-pikiran
rendah yang membawa manusia kepada perilaku buruk yang merusak
masyarakat. Dengan cara inilah mereka menafsirkan realitas yang
diberitakan para nabi seperti Loh, Kalam, ‘Arasy, Kursy, Kitab, Hisab,
Surga, Neraka; (5) Agama hanyalah produk zaman yang berubah dengan
perubahan waktu; (6) Mukjizat yang dinisbahkan kepada para nabi
hanyalah khurafat yang dibuat-buat untuk memperkuat keimanan rakyat
biasa atau untuk memelihara posisi para pemimpin agama di depan
pengikut-pengikutnya.

Inilah secara singkat penjelasan mereka. Kenabian dalam pandangan
mereka hanyalah alat politik dan bukan realitas ilahiyyah. Penting
untuk dicatat bahwa kitab-kitab samawi dan hadis-hadis Nabi yang
sampai kepada kami tidak bisa menerima penafsiran seperti ini. Yang
mendorong mereka mengambil tafsir seperti ini adalah ketundukkan
mereka kepada teori-teori materialistik, sehingga mereka menolak
hal-hal yang supranatural. Mereka menafsirkan realitas metafisik
dengan membawanya kepada penjelasan yang murni materi”[ii]

Kita akan memberikan beberapa contoh dari tafsir seperti ini dengan
mengutip Al-Manar dan Quran Suci: Terjemah dan Tafsir.
AlfaOmega
May 30, 2003, 09:04
Apa sih yang dimaui oleh umat Islam zaman ini?
Oke, umat Islam mempunyai zaman lampau yang begitu gemilang. Tetapi
firdaus yang kemilau di abad pertengahan itu sudah hilang. Umat Islam
juga mempunyai eksemplar sejarah yag sering diimpikan sebagai model
terbaik untuk ditiru pada zaman ini, yaitu pengalaman sejarah pada
masa Nabi di Madinah. Tetapi contoh itu sudah begitu jauhnya, sehingga
banyak orang Islam di zaman ini mulai berpikir-pikir ulang: apakah
praktis menjadikan contoh kehidupan di kota kecil di abad tujuh masehi
itu sebagai "matriks sosial" untuk membina kehidupan umat Islam di
abad 21 ini? Kalaulah model zaman Nabi itu mau dicontoh, apakah harus
sama persis, sesuai dengan pesan Nabi, "shallu kama ra'aitumuni
ushalli", shalatlah sebagaimana aku shalat? Apakah kita dikehendaki
untuk "persis" seperti Nabi dalam hal shalat saja, atau dalam seluruh
kehidupan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, dan lain-lain?
Mungkinkah itu? Bagaimana caranya? Atau kita perlu "persis" dalam
semangat etiknya saja? Sekiranya model Nabi mau dimodifikasi,
bagaimana caranya? Sejauh mana modifikasi itu tidak terjatuh kepada
bid'ah yang dilarang oleh Nabi sendiri? Ataukah bid'ah justru perlu?

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang menghantui umat Islam zaman
sekarang. Tak ada jawaban tunggal pada pertanyaan semacam ini.
Masing-masing golongan dalam Islam mempunyai pemikiran
sendiri-sendiri. Bahkan satu golongan bisa membentak golongan yang
lain karena jawaban-jawaban yang berbeda atas pertanyaan itu.

Minggu yang lalu, saya membaca kolom pendek tulisan Thomas L Friedman
yang dimuat di New York Times edisi 5 Mei 2002, bertajuk "Listening to
the Future". Tom yang menulis buku laris berjudul Lexus and Olive Tree
itu menceritakan suatu "momen" kecil yang, bagi saya, menyimpulkan
dengan ringkas dan baik masalah pokok yang dihadapi oleh umat Islam
zaman ini. Di Pesantren Darun Najah, Ulujami, Jakarta Selatan, Tom
bertemu dengan seorang santri yang dengan baik mengkritik
kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika Serikat, terutama yang
berkaitan dengan masalah Palestina.

Amerika, kata santri itu, menirukan retorika yang sudah 'klise' di
mana-mana, dikendalikan oleh Yahudi, dan bla-bla-bla. Di ujung
komentar si santri itu, Tom bertanya nakal, "Kamu kepengin pergi ke
dan belajar di Amerika?" Saya kutip saja kata-kata santri itu
sebagaimana diriwayatkan oleh Tom, "Of course I would! Because if I go
there, I can understand how that world really thinks. Because until
now I only read about it in newspapers and only see it in TV."

Ada yang tak terungkap dalam jawaban si santri itu, tetapi implisit
bisa terbaca di sana, yaitu keinginan untuk mencicipi kehidupan modern
di negeri asalnya sendiri. Semua anak-anak Islam, dengan perkecualian
pada sejumlah kasus yang sangat terbatas, ingin pergi ke Barat, ke
negeri-negeri maju, belajar di sana, menyaksikan sendiri bagaimana
modernitas bekerja, dan mencontohnya --kalu bisa-- saat pulang kelak.
Tak ada anak Islam yang senang terperosok dalam tempurung
keterbelakangan sepanjang umur. Dan memang begitulah keadaannya:
jutaan anak-anak Islam melancong ke Barat, belajar cara mengkriya
sistem kehidupan modern di sana, dan mencoba memodifikasikannya untuk
negara mereka masing-masing. Mereka bisa berasal dari Mesir,
Palestina, Irak, Siria, Aljazair, Tunisia, Malaysia, Brunei, juga
Indonesia.

Tetapi, mereka juga tetap seorang muslim yang sadar bahwa mereka hidup
dalam dan menghidupi "pandangan dunia" yang sangat beda dengan yang
mereka jumpai di negeri-negeri tempat mereka belajar. Mereka tetap
ingin mempertahankan --katakan saja-- "otentisitas" berdasarkan
tradisi mereka sendiri. Seperti kalimat yang baik dari Samuel
Huntington dalam "The Clash of Civilization" ketika menggambarkan
orang-orang Jepang yang minum Coca Cola, tetapi hati mereka tetap
bertaut dengan Shintoisme, maka anak-anak Islam itu juga persis sama:
mereka belajar "keterampilan" di Barat, tetapi hati dan pikiran mereka
tetaplah bertaut pada Islam; mereka bisa dengan terampil menguasai
teknik mutakhir di negeri seberang itu, tetapi hati mereka tetap tidak
bisa tunduk pada semangat faustian dan prometean yang menjadi semangat
dasar perikehidupan ilmiah di sana.

Singkatnya, yang dimaui oleh umat Islam zaman ini, tampaknya, adalah
satu pokok soal ini: bagaimana menjadi modern, dengan tetap berpegang
pada nilai-nilai Islam. Dalam rumusan yang populer di Arab: bagaimana
mencapai al-hadatsah atau kemoderenan, dengan tetap mempertahankan
al-ashalah atau keaslian.

Kota Madinah adalah simbol keaslian bagi umat Islam: di sanalah, untuk
pertama kali, cita sosial-politik Islam yang indah-indah dari
"kayangan" itu diterjemahkan secara konkret oleh Nabi. Tetapi, Islam
setelah wafatnya Nabi terus berkembang dan meluas, serta menyerap
unsur-unsur baru dari luar dirinya, sehingga mencapai puncak "daya
kreatifnya" dalam sebuah kota bernama Cordova di Spanyol. Kota itu
bisa menjadi simbol komederenan Islam di masa klasik, dan bisa
dijadikan sebagai "pemandu" bagi orang-orang Islam di zaman ini untuk
mencapai cita-cita mereka agar menjadi "moderen dan otentik"
sekaligus.

Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa kemoderenan adalah
cita-cita universal setiap manusia. Hanya, mereka menghendaki suatu
komederenan yang tidak mencerabutkan mereka dari tradisi yang mereka
miliki. Kemoderenan yang terlalu "agresif" menyerang tradisi yang
berbeda-beda itu, pada akhirnya, seperti dicatat oleh Karen Armstrong
dalam "Battle for God", malah akan menimbulkan "backlash", serangan
balik, dalam bentuk fundamentalisme.

Yang menjadi masalah sekarang adalah: sebagian orang Islam lebih suka
menengok secara sepihak kepada contoh di Madinah saja, tetapi
melupakan contoh-contoh yang berkembang setelah sejarah Madinah itu
selesai. Ada semacam anggapan bahwa Islam sebagaimana berkembang di
kawasan-kawasan luar Madinah itu adalah kurang "asli", sedikit (atau
malah banyak) tercampur dengan kebudayaan-kebudayaan di luar Islam.

Contoh Cordova agaknya kurang diminati oleh umat Islam zaman ini.
Semboyan yang selalu diuarkan adalah "kembali kepada Quran dan Hadis".
Akan ditaruh di mana sejarah umat Islam yang empat belas abad itu?
Ataukah sejarah merupakan barang rongsokan yang tak berguna? Pada
akhirnya toh Quran dan Hadis itu sebuah teks yang harus diterjemahkan
ke dalam bumi yang nyata. Bumi tempat Quran dan Hadis itu
diterjemahkan, ya, tak lain adalah Madinah dan (jangan lupa) Cordova.

Kalau boleh mengenalkan suatu neologisme, saya akan menggunakan
istilah "Islam Mardova", yakni Islam sebagaimana diterjemahkan dalam
dua konteks sejarah yang saling memprasyarati, yaitu sejarah Madinah
dan Cordova; Islam yang otentik dan modern sekaligus, sebagaimana
dikehendaki oleh anak-anak Islam zaman ini
-------------
Minggu, 12 Mei 2002
Islam Mardova
Oleh: Ulil Abshar-Abdalla



Anda sedang membaca artikel yang berjudul Cerita-Cerita Mengandung Hikmah. Silakan tinggalkan komentar atau sebarkan jika artikel Cerita-Cerita Mengandung Hikmah ini menarik dan bermanfaat, namun jangan lupa untuk meletakkan link postingan Cerita-Cerita Mengandung Hikmah sebagai sumbernya. Terimakasih (Ttd : Agus Fanani)

0 komentar:

Poskan Komentar